Lewati ke konten utama
Provinsi

Hadapi Puncak Kemarau, BPBPK Kalteng Gelar Rapat Teknis

Redaksi 12-08-2023, 11:35 WIB 1 menit baca
Para perwakilan dari BPBD Kabupaten Kota se-Kalteng saat mengikuti rapat teknis melalui daring. (FOTO:ISTIMEWA)
Para perwakilan dari BPBD Kabupaten Kota se-Kalteng saat mengikuti rapat teknis melalui daring. (FOTO:ISTIMEWA)

SB, PALANGKA RAYA – Menghadapi Puncak Musim Kemarau Tahun 2023, Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran Provinsi Kalimantan Tengah (BPBPK Kalteng) menggelar Rapat Teknis Peningkatan Upaya Penanggulangan Karhutla secara daring, Kamis (10/08/2023).

Plt Kepala Pelaksana BPBPK Ahmad Toyib saat memimpin rapat mengatakan, perkembangan penanganan Karhutla di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah dan prakiraan BMKG, bahwa puncak musim kemarau diprediksi berada di bulan Agustus dan September 2023.

"Grafik Titik Hotspot (HS) kejadian dan luasan Karhutla di Kabupaten/Kota sudah mencapai 113%, HS tertinggi dari bulan Juli  2023 yang mencapai 77%,,” ucapnya.

Mengacu pada data yang ada, maka terdapat beberapa Kabupaten yang perlu mendapatkan perhatian khusus yaitu Kabupaten Barsel, Kobar, Kotim, Seruyan, Katingan, Kapuas, dan Sukamara.

Toyib meminta Pemerintah Kabupaten/Kota untuk mengaktivasi Pos Lapangan sampai di tingkat Kecamatan. Masing-masing Kabupaten/Kota dapat melaporkan aktivasi Pos Lapangan yang dilaksanakan.

"Untuk Kabupaten/Kota yang telah menetapkan Status Siaga Darurat dapat mengoptimalkan penggunaan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk penanganan Karhutla pada fase Siaga Darurat,” tuturnya.

Upaya penanggulangan pada fase Siaga Darurat bisa optimal untuk menghindari terjadinya Tanggap Darurat Bencana Karhutla, maka masing-masing Kabupaten/Kota diharapkan melaporkan anggaran BTT yang sudah digunakan untuk  penanganan karhutla.

Rapat ini diikuti oleh perwakilan dari BPBD Kabupaten/Kota se Kalteng dari ruang kerja masing-masing peserta. BPBD Kabupaten/Kota juga melaporkan perkembangan penanganan kejadian Karhutla di wilayah masing-masing serta kendala dan hambatan dalam menangani Karhutla.

Kendala utama yang dirasakan di hampir seluruh Kabupaten/kota yaitu, tidak tersedianya akses jalan bagi personil tim darat menuju titik lokasi api dan minimnya sumber air di sekitar lokasi, sehingga memaksa mereka untuk meminta bantuan kepada Tim Satgas Udara untuk melakukan Water Bombing sebagai upaya terakhir. (mda/ok)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard