DPRD Kotim melaksanakan RDP dengan pengusaha ayam petelur. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)
SB, SAMPIT – Peternak ayam petelur di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tengah menghadapi tekanan berat. Harga telur yang terus merosot, sementara harga pakan terus melonjak, membuat para peternak harus menjual hasil produksinya di bawah biaya produksi.
Keluhan itu disampaikan Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kotim dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD Kotim, Kamis (6/8/2026). Mereka meminta pemerintah segera turun tangan sebelum banyak peternak terpaksa menutup usahanya.
Ketua Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kotim, Arif Rahman Hakim, mengatakan harga telur di tingkat peternak kini berada pada titik yang sangat memprihatinkan.
"Harga telur sekarang sudah di luar batas kewajaran. Semakin hari semakin turun, sementara harga pakan terus naik. Produksi yang kami jual sudah jauh di bawah modal," ujarnya.
Menurut Arif, harga pakan yang awal tahun masih berkisar Rp380 ribu hingga Rp385 ribu per karung kini telah menembus sekitar Rp440 ribu. Sepanjang 2026, harga pakan bahkan telah naik sekitar 9 hingga 10 kali, dengan kenaikan Rp10 ribu hingga Rp15 ribu setiap penyesuaian.
Padahal, sekitar 70 persen biaya produksi peternakan ayam petelur berasal dari pakan. Kondisi itu membuat setiap kenaikan harga pakan langsung menggerus keuntungan peternak.
Di sisi lain, harga telur justru terus jatuh. Meski pemerintah menetapkan harga acuan sekitar Rp26.500 per kilogram, dengan biaya distribusi ke Kalimantan harga ideal di tingkat peternak diperkirakan mencapai Rp29.500 per kilogram. Namun kenyataannya, telur dijual hanya Rp22 ribu hingga Rp24 ribu per kilogram.
"Kami bukan lagi mencari keuntungan. Yang penting telur tidak busuk di gudang. Kalau tidak dijual, kerugian justru lebih besar," kata Arif.
Ia mengungkapkan, asosiasi sebelumnya telah menyampaikan persoalan tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Kotim melalui Wakil Bupati dan berkoordinasi dengan Satgas Pangan Polres Kotim. Meski inspeksi lapangan sudah dilakukan, hingga kini belum ada langkah yang mampu menstabilkan harga.
Peternak pun mulai khawatir kondisi ini akan memaksa banyak usaha ayam petelur berhenti beroperasi.
"Kalau situasi seperti ini terus berlangsung, kami terancam gulung tikar. Kami tidak tahu sampai kapan bisa bertahan," ungkapnya.
Melalui RDP tersebut, para peternak meminta pemerintah memastikan harga telur di pasaran mengikuti harga acuan yang telah ditetapkan, sekaligus menjaga stabilitas harga pakan agar usaha peternakan tetap berjalan.
Selain itu, mereka juga berharap pabrik pakan yang telah dibangun di Kotim segera beroperasi. Keberadaan pabrik tersebut dinilai dapat menekan biaya produksi dan mengurangi ketergantungan pasokan pakan dari Pulau Jawa sehingga harga menjadi lebih kompetitif. (f1/sb)