seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Ruang Iklan Tersedia

Karhutla Ancam Ekonomi Petani Hortikultura di Kotim

by Redaksi - Tanggal 01-09-2026,   jam 10:44:02
Sekretariat Komisi II DPRD Kotim, M Kurniawan Anwar Sekretariat Komisi II DPRD Kotim, M Kurniawan Anwar

SB, SAMPIT - Dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dinilai tidak hanya berkaitan dengan kabut asap dan kesehatan masyarakat. Kebakaran yang merembet ke lahan produktif, ditambah kondisi kemarau dan kekeringan, juga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi bagi petani, khususnya yang bergerak di sektor hortikultura.

Sekretaris Komisi II DPRD Kotawaringin Timur, M. Kurniawan Anwar, mengatakan kondisi petani hortikultura yang terdampak Karhutla perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Menurutnya, komoditas seperti cabai, tomat, sayuran dan tanaman hortikultura lainnya sangat rentan mengalami kerusakan akibat kebakaran maupun keterbatasan pasokan air selama musim kemarau.

“Karhutla jangan hanya kita lihat dari asap dan dampak kesehatannya. Ada masyarakat yang menggantungkan hidup dari lahan hortikultura. Ketika api merembet dan tanaman mereka ikut terbakar, yang hilang bukan hanya tanaman, tetapi sumber penghasilan dan modal mereka,” kata Kurniawan, Selasa (1/9/2026).

Anggota Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPRD Kotim itu menjelaskan, kondisi petani semakin berat karena kemarau dan kekeringan turut memberikan tekanan terhadap produksi hortikultura. Tanaman hortikultura membutuhkan pasokan air yang cukup serta perawatan intensif agar dapat tumbuh dan menghasilkan.

“Kalau petani sudah menanam, mengeluarkan biaya untuk benih, pupuk, pestisida dan tenaga, kemudian tanaman rusak atau gagal panen karena kebakaran dan kekeringan, kerugiannya tentu sangat terasa. Ini harus kita lihat sebagai persoalan ekonomi masyarakat sekaligus ancaman terhadap ketersediaan pangan,” ujarnya.

Kurniawan mendorong pemerintah daerah melalui perangkat daerah terkait segera melakukan pendataan secara riil terhadap lahan hortikultura yang terbakar maupun mengalami kerusakan atau gagal panen akibat kekeringan.

Pendataan tersebut, kata dia, perlu mencakup luas lahan terdampak, jenis komoditas yang mengalami kerusakan serta jumlah petani yang mengalami kerugian.

“Datanya harus jelas. Dari situ pemerintah bisa menentukan bentuk intervensi yang tepat. Jangan sampai setelah api padam dan musim kemarau berlalu, petani hortikultura yang kehilangan tanaman dan modal justru dibiarkan memulai kembali sendirian,” tegasnya.

Ia juga mendorong pemerintah memberikan dukungan pemulihan kepada petani terdampak, mulai dari bantuan benih, sarana produksi pertanian, akses air, peralatan penyiraman hingga pendampingan teknis.

Menurut Kurniawan, dukungan tersebut penting agar petani dapat kembali menjalankan aktivitas produksi setelah kondisi Karhutla dan kekeringan mereda.

Selain berdampak terhadap pendapatan petani, terganggunya produksi hortikultura juga dinilai dapat berpengaruh terhadap ketersediaan dan harga pangan di masyarakat.

“Jadi penanganan Karhutla harus dilihat secara menyeluruh. Kita selamatkan kesehatan masyarakat, padamkan apinya, tetapi ekonomi petani hortikultura dan keberlanjutan produksi pangan juga harus kita jaga. Petani yang terdampak harus hadir dalam kebijakan pemulihan setelah Karhutla,” pungkas Kurniawan. (f1/sb)