Lewati ke konten utama
Kotawaringin Timur

Kasus Diare di Kotim Capai 3.546, Tertinggi Terjadi pada Juli

Redaksi 17-09-2026, 07:25 WIB 2 menit baca
Kepala Dinas Kesehatan, Umar Kaderi
Kepala Dinas Kesehatan, Umar Kaderi

SB, SAMPIT - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat sebanyak 3.546 kasus diare sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Kasus tersebut mengalami fluktuasi setiap bulan, dengan jumlah tertinggi terjadi pada Juli yang mencapai 690 kasus.

Berdasarkan data Dinkes Kotim, kasus diare pada Januari tercatat sebanyak 440 kasus. Jumlah itu meningkat menjadi 507 kasus pada Februari, sebelum turun menjadi 372 kasus pada Maret dan 393 kasus pada April.

Penurunan kembali terjadi pada Mei dengan 302 kasus dan Juni sebanyak 306 kasus. Namun, kasus diare melonjak tajam pada Juli hingga mencapai 690 kasus, kemudian kembali turun menjadi 536 kasus pada Agustus.

Kepala Dinkes Kotim, Umar Kaderi, mengatakan kondisi kekeringan yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir turut menjadi perhatian karena berdampak terhadap ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah.

"Diare itu penyebabnya karena masalah air bersih. Kita sedang karhutla dan kekeringan, ini tentunya kesulitan air bersih pada daerah-daerah tertentu," kata Umar, Rabu (16/9/2026)

Menurutnya, keterbatasan air bersih membuat masyarakat perlu lebih memperhatikan kualitas air yang digunakan sehari-hari, terutama untuk konsumsi. Air yang tidak memenuhi standar kebersihan dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan pencernaan.

Dinkes Kotim melalui puskesmas terus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya memastikan air minum yang dikonsumsi benar-benar aman. Masyarakat juga diminta merebus air sebelum diminum, termasuk air yang berasal dari depot isi ulang.

"Kami, kawan-kawan di puskesmas juga terus memberikan penyuluhan, edukasi kepada masyarakat, agar air minum harus yang direbus. Termasuk kalau menggunakan air isi ulang pun, setidaknya kita rebus," ujarnya.

Umar menyebutkan, kasus diare yang ditangani fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) di Kotim sejauh ini masih tergolong ringan. Seluruh kasus masih dapat ditangani di fasilitas kesehatan yang tersedia.

"Namun, diarenya masih diare ringan, sehingga semuanya masih bisa kita tangani di faskes kita. Insyaallah tidak ada kasus diare yang menyebabkan kematian," tambahnya.

Selain menjaga kualitas air, masyarakat juga diminta menggunakan air secara bijak selama kondisi kekeringan. Penggunaan air diutamakan untuk kebutuhan pokok, seperti minum, mandi dan kebutuhan rumah tangga.

Di sisi lain, Dinkes Kotim memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan selama masa tanggap darurat karhutla dan kekeringan. Seluruh fasilitas kesehatan di 17 kecamatan telah diarahkan untuk membuka pelayanan selama 24 jam.

Pelayanan tersebut diberlakukan dengan sistem shift untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses layanan kesehatan apabila membutuhkan pertolongan.

"Kita selama karhutla ini sudah instruksikan kepada semua faskes kita buka 24 jam, dengan tenaganya sistem shift, ketersediaan obat-obatan juga sudah mencukupi, kemudian masker juga itu sudah tercukupi," pungkasnya. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard