Lewati ke konten utama
Kotawaringin Timur

Bukan Sekadar DJ, Tian Atmazza dan Perjuangan Menghidupi Keluarga

Redaksi 15-01-2026, 01:05 WIB 2 menit baca
DJ Tian Atmazza selama hampir 16 tahun, ia menekuni dunia DJ demi menghidupi istri dan anak-anaknya. FOTO: ABU/SB
DJ Tian Atmazza selama hampir 16 tahun, ia menekuni dunia DJ demi menghidupi istri dan anak-anaknya. FOTO: ABU/SB

SB, SAMPIT - Di balik gemerlap lampu klub malam dan dentuman musik yang menggema hingga dini hari, tersimpan kisah perjuangan seorang ayah yang menjadikan profesi disc jockey (DJ) sebagai tumpuan hidup keluarganya.

la adalah Christian, yang lebih dikenal dengan nama panggung DJ Tian Atmazza. Selama hampir 16 tahun, ia menekuni dunia DJ demi menghidupi istri dan anak-anaknya.

Perjalanan kariernya dimulai pada 2010. Saat itu, ia memutuskan belajar secara profesional di Spinach DJ Academy, Jakarta Selatan.

"Pengalaman saya sebagai DJ mulai dari 2010. Saya sekolah DJ di Jakarta Selatan. Dari situ berkembang, mulai dari event sampai long trip resident dari Sabang sampai Merauke," ujar DJ Tian Atmazza saat ditemui, Kamis (15/1/2026).

Setelah mengawali karier di Jakarta, ia melanjutkan perjalanan ke Bogor dan Bandung. Pada 2014, ia mengambil long trip ke Bali dan tampil di sejumlah klub besar seperti Bounty, Adora Super Club, dan District.

Perjalanannya berlanjut ke Banjarmasin selama tiga tahun (2015-2018), lalu ke Bangka Belitung, Jakarta, Sintang (Kalimantan Barat), hingga Banten.

Pandemi Covid-19 sempat membuatnya berhenti total karena seluruh tempat hiburan malam tutup.

"Pas Covid semua tutup, jadi berhenti nge-DJ. Setelah kondisi membaik, saya ambil job lagi di beberapa daerah sampai akhirnya sekarang resident di Vino Club Sampit," katanya.

Di tengah stigma negatif yang melekat pada dunia malam, ia menegaskan bahwa tidak semua DJ terjerumus dalam hal buruk.

"Kunci bertahan lama itu attitude. Dunia malam memang banyak godaan, tapi semua kembali ke diri sendiri. Harus bisa jaga diri," tegasnya.

la juga mengaku sering menjadi korban fitnah, terutama terkait isu narkoba.

"Ada yang pakai narkoba, kita yang kena tuduhan. Padahal kita enggak pakai. Tapi selama kita benar dan siap dites, kita terus maju. Intinya perang melawan narkoba," ujarnya.

Menurutnya, pengalaman paling menyenangkan adalah saat dipercaya menangani event besar dan bertemu banyak orang baru.

"Relasi jadi luas. Itu yang bikin senang," katanya.

la pun mengenang Banjarmasin sebagai salah satu daerah dengan pengalaman paling berkesan.

"Di sana lumayan kencang, tip-tipannya juga. Waktu paling enaklah," ucapnya sambil tersenyum.

Di balik semua perjalanan itu, keluarga menjadi alasan utama ia bertahan. Istri dan anak-anaknya yang tinggal di Bogor selalu menjadi sumber semangatnya.

"Income dari DJ semua untuk keluarga. Yang penting jaga diri, enggak narkoba. Alkohol boleh tapi dikontrol. Yang penting keluarga menikmati hasilnya," katanya.

Menjadi DJ bukanlah cita-cita awal Christian. la mengaku terjun ke dunia ini secara tidak sengaja, berawal dari pekerjaannya sebagai sales truk.

"Tahun 2010 saya lihat DJ di Diamond Club Jakarta, kok keren juga. Dari situ kepikiran sekolah DJ," kenangnya.

Ke depan, ia berharap bisa terus berkarya dan berkembang di industri musik.

"Sekarang DJ bukan cuma nge-DJ. Bisa jadi produser, remixer. Semoga industri musik Indonesia makin maju," pungkasnya. (f1/SB)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard