BMKG Kotim Prediksi Cuaca Aman Selama Arus Mudik Idul Fitri 2026
SB, SAMPIT – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memprediksi kondisi cuaca selama arus mudik Idul Fitri 2026 relatif aman, baik untuk perjalanan laut maupun darat.
Kepala BMKG Kotim, Mulyono Leo Nardo, mengatakan berdasarkan prakiraan cuaca terbaru, ketinggian gelombang di perairan masih dalam batas aman bagi pelayaran.
“Untuk perkiraan di laut, kondisi relatif aman karena ketinggian gelombang maksimum sekitar 1,25 meter. Bagi kapal Ro-Ro maupun kapal besar, kondisi tersebut masih memungkinkan untuk berlayar,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).
Sementara itu, untuk cuaca di daratan selama sepekan ke depan, BMKG memperkirakan dominasi cuaca cerah berawan dengan potensi hujan pada sore hingga malam hari.
“Untuk perkiraan daratnya, kondisi cuaca umumnya cerah berawan, kemudian hujan diperkirakan terjadi pada sore dan malam hari,” tambah Mulyono.
Ia menegaskan, potensi cuaca ekstrem sejauh ini belum terlihat karena curah hujan yang diperkirakan masih dalam kategori normal, yakni 20–100 milimeter.
“Kalau dikatakan ekstrem, tidak. Curah hujan yang kami informasikan masih kategori menengah dan normal,” jelasnya.
Menurutnya, cuaca terasa lebih panas karena posisi matahari saat ini mendekati garis khatulistiwa.
“Secara teori, sekarang kita berada di bulan Maret, posisi matahari mendekati ekuator. Jadi kita lebih cenderung merasakan cuaca panas beberapa bulan ini, meskipun masih berada dalam musim hujan,” ungkapnya.
BMKG juga memperkirakan musim kemarau di wilayah Kotim akan mulai terjadi pada awal Juni 2026.
“Terkait potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), memang sempat terpantau beberapa titik panas. Namun setelah hujan, kondisi saat ini sudah tidak terdeteksi lagi,” kata Mulyono.
Meski demikian, masyarakat tetap diimbau meningkatkan kewaspadaan karena musim kemarau diperkirakan lebih panjang sehingga risiko karhutla meningkat.
“Berdasarkan rilis kami, awal musim kemarau bulan Juni nanti ada potensi karhutla. Kemarau diperkirakan lebih panjang sehingga risiko karhutla juga semakin tinggi. Jadi kita perlu waspada terhadap perubahan cuaca yang cukup signifikan ini,” pungkasnya. (f1/sb)