Hujan Masih Guyur Kotim, BMKG: Dipicu Fenomena MJO Jelang Musim Kemarau
SB, SAMPIT – Meski diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada Juni 2026, wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih berpotensi diguyur hujan dalam beberapa hari ke depan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Sampit menyebut kondisi tersebut dipengaruhi masa peralihan musim serta aktivitas fenomena atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO).
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Bandara H Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo menjelaskan, saat ini cuaca di Kotim masih berada pada fase transisi dari musim hujan menuju musim kemarau. Karena itu, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih kerap terjadi di sejumlah wilayah.
“Berdasarkan prakiraan BMKG, wilayah Kotawaringin Timur diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada Juni 2026. Namun sekarang masih berada dalam masa peralihan musim,” ujar Mulyono, Rabu (20/5/2026).
Ia mengungkapkan, meningkatnya curah hujan beberapa hari terakhir juga dipicu aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), yakni fenomena atmosfer tropis yang bergerak secara periodik dari barat ke timur setiap 30 hingga 60 hari.
Menurutnya, saat MJO aktif melintasi wilayah Indonesia, pembentukan awan hujan menjadi lebih intensif sehingga meningkatkan potensi hujan, termasuk di wilayah Kalimantan Tengah.
“Indonesia bagian tengah, termasuk Kalimantan Tengah, saat ini terdampak aktivitas MJO. Hal itu menyebabkan curah hujan meningkat dalam beberapa hari terakhir,” katanya.
Mulyono menegaskan, MJO merupakan fenomena atmosfer yang normal dan menjadi bagian dari siklus cuaca global. Fenomena ini bukan gangguan cuaca permanen, melainkan pola atmosfer yang terus berulang secara alami.
“MJO itu normal dalam meteorologi karena merupakan siklus atmosfer yang terus berulang setiap 30 sampai 60 hari. Saat fase aktifnya berada di wilayah Indonesia, potensi hujan biasanya meningkat,” jelasnya.
Ia menerangkan, MJO memiliki delapan fase pergerakan dan Indonesia umumnya terdampak ketika fenomena tersebut berada pada fase tiga dan empat, yakni saat melintasi kawasan Maritime Continent atau wilayah maritim Indonesia.
“Kalau MJO berada pada fase yang berdampak ke Indonesia, curah hujan bisa meningkat. Setelah bergerak menjauh, kondisi cuaca biasanya kembali normal,” ungkapnya.
BMKG memperkirakan pengaruh MJO yang saat ini terjadi mulai melemah dalam tiga hingga empat hari mendatang. Kendati demikian, masyarakat tetap diminta mewaspadai potensi hujan ringan hingga sedang yang masih mungkin terjadi.
“Untuk tiga sampai empat hari ke depan masih ada peluang hujan ringan hingga sedang. Setelah itu kondisi cuaca diperkirakan mulai normal kembali dan berangsur menuju musim kemarau,” tuturnya.
Mulyono juga menambahkan, aktivitas MJO dapat terjadi kapan saja dan tidak bergantung pada musim tertentu. Bahkan saat musim kemarau berlangsung, fenomena tersebut tetap bisa muncul karena merupakan bagian dari dinamika atmosfer global.
“Fenomena ini tidak bergantung musim. Saat musim kemarau pun MJO tetap bisa terjadi karena memang merupakan siklus atmosfer global,” pungkasnya. (f1/sb)