Harga Gas 3kg di Nanga Bulik Tembus Rp40 Ribu, Warga Soroti Lemahnya Pengawasan DPRD
SB, NANGA BULIK – Keluhan masyarakat terkait mahal dan langkanya gas Elpiji 3 kilogram kembali mencuat di Kabupaten Lamandau Kelurahan Nanga Bulik, Kecamatan Bulik, warga mengaku harus merogoh kocek hingga Rp40 ribu per tabung untuk mendapatkan gas bersubsidi yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, pada Senin (8/6/2026).
Salah seorang warga yang akrab disapa Buk Merin (54) warga Bulik mengungkapkan, harga Elpiji 3 kilogram di tingkat pengecer saat ini berkisar antara Rp38.000 hingga Rp40.000 per tabung. Ironisnya, meski harga terus merangkak naik, ketersediaan gas di lapangan justru sering sulit ditemukan.
"Sekarang harga gas 3 kg sudah Rp38.000 sampai Rp40.000. Itu pun kadang susah dicari, harus keliling dulu baru dapat," ujar Buk Merin.
Menurutnya, kondisi tersebut sangat memberatkan masyarakat, terutama kalangan ekonomi menengah ke bawah yang menggantungkan kebutuhan memasak sehari-hari pada LPG bersubsidi. Tidak hanya rumah tangga, pelaku usaha mikro seperti warung makan dan pedagang kecil juga ikut terdampak akibat tingginya harga.
Keluhan serupa juga disampaikan sejumlah warga lainnya. Mereka mengaku kerap kesulitan mendapatkan stok Elpiji 3 kilogram dan terpaksa membeli dengan harga jauh di atas harga yang seharusnya.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah warga juga menyoroti minimnya pengawasan dari pihak terkait, termasuk fungsi pengawasan yang dimiliki anggota DPRD Lamandau. Masyarakat menilai hingga saat ini belum terlihat langkah konkret untuk mengawal distribusi LPG subsidi maupun menindaklanjuti keluhan yang berulang terjadi di lapangan.
"Keluhan soal gas mahal dan langka ini bukan baru sekali terjadi. Kami berharap wakil rakyat lebih aktif turun ke lapangan dan menjalankan fungsi pengawasannya agar masalah ini tidak terus berulang," ungkap salah seorang warga.
Warga berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera turun tangan untuk memastikan distribusi LPG bersubsidi berjalan lancar dan tepat sasaran. Pengawasan terhadap rantai distribusi dinilai perlu diperketat guna mencegah terjadinya kelangkaan maupun lonjakan harga di tingkat pengecer.
Selain itu, masyarakat meminta DPRD Lamandau melalui komisi yang membidangi perekonomian dan perdagangan untuk memanggil pihak-pihak terkait, termasuk agen dan pangkalan LPG, guna mencari solusi atas tingginya harga serta kelangkaan yang dikeluhkan masyarakat.
Masyarakat menilai, jika kondisi ini terus berlanjut tanpa pengawasan yang kuat, beban ekonomi warga akan semakin berat di tengah kebutuhan pokok yang terus mengalami kenaikan.
"Harapan kami pasokan gas kembali normal dan harganya bisa terjangkau. Karena ini kebutuhan utama masyarakat untuk memasak setiap hari," tambah Buk Merin.
Warga juga meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap distribusi Elpiji 3 kilogram di wilayah Nanga Bulik agar gas bersubsidi benar-benar dinikmati oleh masyarakat yang berhak sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, tujuan program subsidi pemerintah dapat dirasakan secara maksimal oleh warga yang membutuhkan. (BY)