Kota Sampit tampak diselimuti kabut asap akibat Karhutla. (FOTO:ISTIMEWA)
SB, SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Jalan Trans Kalimantan mulai mengganggu pengguna jalan. Asap tebal dari lahan gambut yang terbakar di Kilometer 8 hingga Kilometer 13 membuat jarak pandang pengendara berkurang dan berisiko menyebabkan kecelakaan.
Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur (Kotim), Multazam, mengatakan asap mulai menyelimuti jalan nasional sejak 28 Juli 2026 akibat kebakaran lahan gambut.
"Asap sudah mulai mengganggu Jalan Nasional akibat kebakaran di Kilometer 8. Karena lokasinya di lahan gambut, produksi asap sangat pekat dan sulit hilang," ujar Multazam, Kamis (30/7/2026).
Ia mengingatkan pengguna jalan, terutama pengendara roda dua, agar lebih berhati-hati saat melintas di kawasan terdampak asap.
"Pengendara roda dua paling berisiko karena jarak pandang berkurang. Kondisi seperti ini bisa memicu kecelakaan," katanya.
Menurut Multazam, kebakaran terus ditangani petugas BPBD karena titik api masih meluas hingga Kilometer 13. Karakter lahan gambut membuat api sulit dipadamkan karena bara masih tersimpan di dalam tanah.
Selain melakukan pemadaman, BPBD juga memantau kualitas udara di Sampit. Hingga Kamis pagi, kondisi udara masih berada pada kategori sedang dan belum masuk tingkat berbahaya.
BPBD mengimbau masyarakat, terutama yang memiliki gangguan pernapasan, untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan serta menggunakan masker saat beraktivitas.
Masyarakat juga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan karena kondisi lahan yang kering membuat api kecil mudah berkembang menjadi kebakaran besar.
"Pencegahan harus dilakukan bersama. Jangan ada aktivitas yang bisa memicu kebakaran, karena dampaknya bisa dirasakan banyak orang," pungkas Multazam. (f1/sb)