Kabut Asap Makin Parah, Sekolah Diminta Alihkan Belajar ke Rumah
SB, SAMPIT – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Sampit membuat Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) meminta sekolah tidak memaksakan pembelajaran tatap muka.
Pj Sekretaris Daerah (Sekda) Kotim Diana Setiawan menegaskan, kesehatan siswa dan tenaga pendidik harus menjadi pertimbangan utama. Jika kondisi udara semakin buruk, sekolah diminta mengalihkan pembelajaran ke rumah.
“Kalau memang asapnya pekat sekali atau sudah mengganggu kesehatan anak-anak kita, maka wajib untuk belajar dari rumah. Sekarang zaman digital, jadi mereka bisa sekolah dari rumah,” kata Diana, Kamis (24/9/2026).
Menurut Diana, pemerintah daerah sebelumnya sempat mengeluarkan imbauan agar sekolah diliburkan saat kabut asap memburuk. Namun, karena terdapat kendala dalam penerapannya, keputusan teknis pembelajaran akhirnya diserahkan kepada masing-masing sekolah.
“Pemerintah daerah sangat peduli terhadap kesehatan. Waktu itu sempat keluar imbauan Bapak Bupati untuk meliburkan sekolah, tetapi karena ada kendala dengan kebijakan tersebut, akhirnya kita menyerahkan kepada sekolah,” ujarnya.
Diana meminta kepala sekolah tidak hanya mempertimbangkan kegiatan belajar mengajar, tetapi juga kondisi kualitas udara sebelum menggelar pembelajaran tatap muka.
“Tolong perhatikan kesehatan para murid atau siswa. Utamakan kesehatan. Jika asap semakin pekat atau tidak memungkinkan untuk belajar di sekolah, maka belajarlah dari rumah melalui online,” tegasnya.
Ia menilai perkembangan teknologi memungkinkan proses belajar tetap berjalan meski siswa tidak berada di ruang kelas. Karena itu, pembelajaran dari rumah dapat menjadi pilihan ketika kabut asap sudah mengganggu kesehatan.
Pemkab Kotim berharap pihak sekolah mengambil langkah sesuai kondisi di lapangan, terutama jika kabut asap kembali menebal. Kesehatan siswa dan tenaga pendidik diminta tetap menjadi prioritas di tengah ancaman karhutla. (sb/*)