Lewati ke konten utama
Pemkab Kotawaringin Timur

Penanganan Karhutla Kewalahan, Hujan Jadi Harapan Akhir

Redaksi 01-10-2026, 12:29 WIB 2 menit baca
Bupati Kotim, H Halikinnor saat meninjau lokasi karhutla. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)
Bupati Kotim, H Halikinnor saat meninjau lokasi karhutla. (FOTO: SEPUTAR BORNEO)

SB, SAMPIT - Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor mengungkapkan, penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah perkotaan menghadapi kendala berbeda dibandingkan daerah utara Kotim.

Menurutnya, wilayah utara yang didominasi tanah mineral cenderung lebih mudah dipadamkan. Sementara di kawasan perkotaan, api kerap kembali muncul setelah dipadamkan karena membutuhkan proses pendinginan yang lebih lama.

“Kita bersyukur di daerah utara itu karena mungkin tanah mineral. Sehingga begitu ada api, begitu dipadamkan oleh tim di sana, di masyarakat itu tidak ada lagi,” kata Halikinnor saat diwawancarai, Kamis (1/10/2026).

Namun, kondisi berbeda terjadi di wilayah perkotaan. Api yang sudah dipadamkan dapat kembali menimbulkan asap karena titik panas di dalam tanah masih membutuhkan proses pendinginan.

“Tidak seperti di wilayah perkotaan, kita padamkan, besok muncul lagi asapnya karena perlu sampai pendinginan,” ujarnya.

Halikinnor mengatakan, proses pendinginan juga menghadapi persoalan keterbatasan air. Di saat petugas masih melakukan pendinginan di satu lokasi, kebakaran di wilayah lain kembali membesar sehingga personel harus segera bergeser.

Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala dalam penanganan karhutla di wilayah Kotim. Terlebih, jangkauan sejumlah titik kebakaran cukup jauh dan sulit diakses.

Ia mencontohkan kebakaran di wilayah Ganepo yang jaraknya mencapai sekitar tujuh kilometer dari akses yang mudah dijangkau.

“Kalau ada jalan mudah, bisa naik motor atau apa. Tapi kalau tujuh kilo lewat rawa dan segala macam, ini kan tidak mudah. Kalau tidak tenaga yang masih muda, stamina yang masih kuat, tidak akan mampu,” ungkap Halikinnor.

Selain harus berjalan jauh melewati medan sulit, petugas juga harus membawa selang dan perlengkapan pemadaman lainnya. Karena itu, Halikinnor mengapresiasi seluruh personel Satgas Karhutla yang terus berjibaku melakukan pemadaman.

“Saya terima kasih sekali dengan tim Satgas yang berjibaku siang malam dengan mempertaruhkan tenaga, pikiran, bahkan kalau tidak hati-hati juga bisa nyawa itu,” katanya.

Halikinnor menegaskan keselamatan personel harus tetap menjadi prioritas dalam setiap upaya pemadaman. Ia mengingatkan agar petugas tidak memaksakan diri ketika menghadapi kondisi yang membahayakan.

“Walaupun kita bagaimana memadamkan api itu, tetap prioritaskan keselamatan kita sendiri. Karena kalau terkurung api, terkurung, bisa berbahaya,” tegasnya.

Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, Halikinnor berharap hujan segera turun secara merata. Menurutnya, hujan alami menjadi faktor penting yang diharapkan dapat membantu mengakhiri kondisi karhutla yang terjadi saat ini. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard