Lewati ke konten utama
Kotawaringin Timur

Pedagang Ayam Pasar PPM Sampit Keluhkan Pedagang Liar, Omzet Turun hingga 70 Persen

Redaksi 11-02-2026, 11:50 WIB 2 menit baca
Yani, pedagang daging ayam di PPM Sampit
Yani, pedagang daging ayam di PPM Sampit

SB, SAMPIT - Pedagang daging ayam di Pasar Pusat Perbelanjaan Masyarakat (PPM) Sampit, Kabupaten Kotawarungin Timur (Kotim) mengeluhkan maraknya pedagang ayam liar yang berjualan di luar area pasar.

Kondisi tersebut dinilai berdampak besar terhadap pendapatan pedagang resmi yang menempati los pasar. Salah satu pedagang daging ayam, Yani, mengatakan para pedagang di dalam Pasar PPM merupakan pedagang resmi yang memiliki legalitas lengkap.

“Kami ini pedagang resmi. Setiap los itu ada notarisnya, kami bayar resmi. Sedangkan yang di luar itu pedagang liar,” kata Yani, Rabu (11/2/2026).

Menurutnya, keberadaan pedagang di pinggir jalan seharusnya bisa ditertibkan oleh pemerintah daerah dengan menempatkan mereka ke dalam pasar.

“Seharusnya diatur dan dimasukkan ke pasar. Kalau dibiarkan berjualan di jalan, itu bikin kota jadi kumuh, bau, dan tidak indah,” ujarnya.

Yani juga menyoroti persoalan limbah dari pedagang ayam dan ikan yang berjualan di luar pasar. Menurutnya, limbah tersebut bau, seperti ikan dan sisa ayam. Harusnya pasar itu dekat sungai supaya limbahnya bisa dialirkan, bukan di jalan. Ia menilai saat ini pemerintah daerah terkesan membiarkan kondisi tersebut.

“Ini curhatan kami sebagai pedagang pasar. Kalau memang pasar mau difungsikan dan diramaikan lagi, masukkanlah pedagang-pedagang itu ke dalam pasar,” tegasnya.

Yani menyebutkan banyak los di Pasar PPM yang kini kosong karena sepinya pembeli. “Pasar itu banyak yang kosong, terutama los ayam. Karena ayamnya banyak jualan di luar,” ucapnya.

Akibat kondisi tersebut, pendapatan pedagang ayam di dalam pasar mengalami penurunan signifikan. “Penghasilan jelas terdampak. Penurunan bisa sampai 70 persen. Kalau dulu 100 persen, sekarang tinggal 30 persen saja,” ungkap Yani.

Ia mengatakan pembeli rumah tangga kini jarang masuk ke pasar, sehingga pedagang hanya mengandalkan pembeli dari kebun atau kapal pemotong ayam. Meski omzet terus menurun, Yani mengaku tetap bertahan berjualan di Pasar PPM demi memenuhi kebutuhan hidup.

“Kalau tidak bertahan, mau makan apa? Jadi sekarang ini cuma bertahan saja,” tutupnya. (f1/SB)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard