Cap Go Meh di Kotim Meriah dan Penuh Toleransi, Barongsai Jadi Magnet Warga
SB, SAMPIT – Perayaan Cap Go Meh di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berlangsung meriah dan sarat nuansa toleransi. Atraksi barongsai menjadi hiburan yang paling dinantikan warga dalam penutupan rangkaian Tahun Baru Imlek tersebut, Rabu (4/3/2026).
Pemuka Agama Konghucu Kotim, Suhardi, menjelaskan bahwa Cap Go Meh merupakan perayaan yang digelar dua pekan setelah Tahun Baru Imlek sekaligus menjadi penutup seluruh rangkaian perayaan.
“Cap Go Meh ini merupakan penutupan daripada rangkaian Tahun Baru Imlek. Jadi setelah Cap Go Meh, sudah tidak lagi ada perayaan Imlek,” ujarnya.
Ia menerangkan, sebelum perayaan dimulai, umat Konghucu terlebih dahulu melaksanakan ibadah di kelenteng. Setelah itu, rangkaian hiburan dibuka untuk masyarakat umum.
Untuk memeriahkan acara, panitia menyiapkan dua sesi kegiatan, yakni pentas seni di dalam ruangan dan pertunjukan barongsai yang digelar pada malam hari. Penjadwalan tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada umat Muslim yang sedang menunaikan ibadah Tarawih di bulan Ramadan.
“Kita ada dua sesi. Yang pertama pentas seni dari Sekolah Minggu Konghucu yang dilaksanakan di dalam ruangan. Tujuannya adalah untuk menghormati dan menghargai saudara-saudara kita yang Muslim yang sedang menunaikan ibadah Tarawih,” jelasnya.
Ia menambahkan, pertunjukan barongsai sengaja dijadwalkan setelah waktu Tarawih agar tidak mengganggu kekhusyukan ibadah.
“Maka pertunjukan barongsai itu dijeda waktunya hingga malam hari baru bisa tampil. Jadi kita dahulukan yang di indoor agar tidak mengganggu,” katanya.
Atraksi barongsai yang tampil energik dan penuh warna itu pun disambut antusias warga. Tak hanya umat Konghucu atau etnis Tionghoa, masyarakat dari berbagai latar belakang turut memadati lokasi perayaan.
“Antusias warga sangat baik, sangat mendapat sambutan. Kemeriahan Cap Go Meh ini bukan hanya diperingati oleh umat Konghucu atau etnis Tionghoa saja, tapi juga masyarakat Muslim dan warga dari daerah lain yang datang untuk menyaksikan,” ungkap Suhardi.
Menurutnya, Cap Go Meh di Kotim telah berkembang menjadi perayaan yang bersifat universal dan dinikmati bersama oleh seluruh lapisan masyarakat. Selain pertunjukan barongsai, warga juga disuguhkan hidangan khas seperti lontong Cap Go Meh yang menjadi simbol kebersamaan dan berbagi kebahagiaan.
“Di seluruh Indonesia ciri khasnya makan lontong. Simbolnya adalah berbagi kebahagiaan dengan makan bersama, makanan yang paling familiar dan disukai pada umumnya,” tuturnya.
Melalui momentum tersebut, ia berharap semangat kebersamaan dan kerukunan antarumat beragama di Kotim terus terjaga.
“Kita berharap semua beroleh kesehatan, kesejahteraan, terutama untuk negeri kita tercinta dijauhkan dari bencana alam, konflik intoleransi, radikalisme, dan lain sebagainya. Kita mengharapkan negara ini selalu kondusif, damai, harmonis, dan rukun,” pungkasnya. (f1/sb)