Peternakan Kotim Tertekan, Produksi Telur Naik tapi Harga Terus Anjlok
SB, SAMPIT – Peternak ayam petelur di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengeluhkan anjloknya harga telur yang sudah berlangsung hampir tiga bulan terakhir. Di sisi lain, biaya produksi terus meningkat sehingga keuntungan peternak semakin menipis.
Ketua Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kotim, Arif Rahman Hakim, mengatakan produksi telur lokal sebenarnya terus meningkat. Namun, jumlahnya baru mampu memenuhi sekitar 15–20 persen kebutuhan masyarakat Kotim, sedangkan sisanya masih dipasok dari Pulau Jawa.
"Produksi peternak lokal baru sekitar 15 sampai 20 persen dari kebutuhan masyarakat. Karena masih bergantung pada pasokan dari Jawa, harga telur di Kotim ikut dipengaruhi harga dari sana," katanya, Senin (29/6/2026).
Arif mengungkapkan, kondisi peternak saat ini semakin berat karena harga pakan naik, sementara harga jual telur justru terus menurun.
"Harga pakan naik dari sekitar Rp385 ribu menjadi Rp425 ribu per sak. Sementara harga telur turun drastis, sehingga biaya produksi tidak sebanding dengan harga jual," ujarnya.
Menurutnya, peternak juga harus menanggung biaya vaksin, obat-obatan, vitamin, dan perawatan ayam. Jika kondisi ini terus berlanjut, tidak sedikit peternak yang terancam menghentikan usahanya.
Ia juga menyoroti selisih harga telur antara peternak dan pasar. Menurutnya, harga di tingkat peternak sudah turun, tetapi masyarakat masih membeli dengan harga yang relatif tinggi.
"Kami menjual dengan harga murah, tetapi di pasar harganya tetap mahal. Yang paling dirugikan justru peternak," tegasnya.
Arif berharap pemerintah dapat mempertemukan peternak, distributor, dan agen untuk mencari solusi agar harga telur kembali stabil dan usaha peternak lokal tetap bertahan. (f1/sb)