seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Puncak Kemarau di Kotim Bergeser ke September

by Redaksi - Tanggal 16-07-2026,   jam 11:07:47
Kepala BMKG Sampit , Mulyono Leo Nardo Kepala BMKG Sampit , Mulyono Leo Nardo

SB, SAMPIT - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperbarui prediksi musim kemarau di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Berdasarkan hasil analisis klimatologi terbaru, puncak musim kemarau yang semula diperkirakan terjadi pada Agustus kini bergeser menjadi September 2026.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, mengatakan perubahan tersebut merupakan hasil evaluasi terhadap perkembangan kondisi atmosfer dalam beberapa waktu terakhir.

"Prediksi awal kami puncak musim kemarau berada di Agustus. Setelah dilakukan review dan analisis kembali, puncaknya bergeser menjadi September," ujar Mulyono, Kamis (16/7/2026).

Ia menjelaskan, pergeseran itu terjadi karena awal musim kemarau di Kotim juga mengalami penyesuaian. Pada akhir Juni lalu, sejumlah wilayah masih diguyur hujan sehingga transisi menuju musim kemarau berlangsung lebih lambat dari perkiraan sebelumnya. Meski demikian, BMKG memastikan Kotim kini telah memasuki musim kemarau. Periode kemarau diperkirakan berlangsung sejak Juni hingga akhir Oktober 2026 atau sekitar lima bulan.

"Kalau dihitung mulai Juni sampai akhir Oktober, kurang lebih lima bulan. Ini termasuk cukup panjang dibanding beberapa tahun terakhir," katanya.

Mulyono menambahkan, musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang dan lebih kering akibat pengaruh fenomena El Nino yang terus menguat menuju kategori kuat. Kondisi tersebut menyebabkan curah hujan semakin berkurang sehingga potensi kekeringan meningkat.

"Tahun ini kita menghadapi musim kemarau yang diperkuat oleh fenomena El Nino. Dampaknya kemarau menjadi lebih kering dan berlangsung lebih lama," jelasnya.

Selain dipengaruhi El Nino, kondisi cuaca kering juga diperkuat oleh dominasi angin dari sektor selatan hingga tenggara. Angin tersebut membawa massa udara dengan kandungan uap air yang rendah sehingga peluang terbentuknya hujan menjadi semakin kecil. BMKG mencatat suhu udara maksimum di Kotim selama musim kemarau berkisar 33 derajat Celsius. Menurut Mulyono, suhu tersebut masih belum berdampak terhadap operasional penerbangan.

"Yang mengganggu penerbangan bukan suhu panasnya, tetapi kalau nanti muncul kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan," ujarnya.

Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Selain berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), asap yang ditimbulkan dapat mengganggu kesehatan masyarakat serta aktivitas transportasi udara.

"Kami mengimbau masyarakat menjaga lingkungan, tidak membakar lahan sembarangan, dan menjaga kesehatan karena beberapa pekan terakhir hujan mulai berkurang sementara cuaca terasa lebih panas," katanya.

BMKG juga mengingatkan sektor pertanian menjadi salah satu yang paling rentan terdampak kemarau panjang. Menurunnya curah hujan akan mengurangi ketersediaan air tanah sehingga petani diminta menyesuaikan pola tanam.

"Untuk petani sebaiknya memilih jenis tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan atau tanaman yang kebutuhan airnya lebih sedikit agar tetap bisa bertahan selama musim kemarau," pungkasnya. (f1/sb)