seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Ukiran Dayak Laris di Mancanegara, Pengrajin Kewalahan Penuhi Pesanan Ekspor

by Redaksi - Tanggal 16-07-2026,   jam 11:34:12
Pengrajin kayu asal Sampit, Muftih Pengrajin kayu asal Sampit, Muftih

SB, SAMPIT – Di sebuah bengkel sederhana di Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), lahir karya-karya ukir khas Dayak Kalimantan Tengah yang kini diminati pasar internasional. Tameng Dayak (telawang), perahu naga, hingga ornamen tradisional hasil tangan para perajin lokal berhasil menarik perhatian pembeli dari Tiongkok, Singapura, Korea Selatan, hingga Sarawak, Malaysia.

Di balik keberhasilan menembus pasar ekspor, Usaha Baniang 42 Jaya justru menghadapi tantangan besar. Tingginya permintaan belum mampu diimbangi kapasitas produksi akibat keterbatasan modal dan minimnya tenaga perajin yang menguasai seni ukir tradisional.

Pemilik Baniang 42 Jaya, Muftih Rahman, mengatakan usaha tersebut merupakan warisan keluarga yang ia pertahankan sejak pascakerusuhan Sampit. Saat usaha hampir berhenti beroperasi, ia memilih melanjutkannya agar seni ukir khas Kalimantan Tengah tetap hidup dan tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

"Saya hanya ingin warisan ini tetap ada. Seni ukir Dayak adalah identitas budaya Kalimantan Tengah yang harus dijaga dan diperkenalkan hingga ke dunia," ujar Muftih, Kamis (16/7/2026).

Menurutnya, telawang menjadi produk yang paling banyak diminati karena memiliki ciri khas yang tidak dimiliki daerah lain. Setiap karya dibuat secara manual dengan tingkat kesulitan berbeda, sehingga harga ditentukan berdasarkan ukuran, detail ukiran, dan jenis kayu yang digunakan, termasuk kayu ulin yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Muftih mengungkapkan, beberapa pembeli dari luar negeri bahkan meminta produksi dalam jumlah besar, terutama untuk perahu naga ukir. Namun peluang ekspor tersebut belum bisa dimanfaatkan secara maksimal karena keterbatasan modal usaha dan kurangnya sumber daya manusia.

"Permintaan dari luar negeri cukup besar, tetapi kami belum mampu memenuhi produksi massal. Kendala terbesar kami adalah modal dan tenaga perajin yang masih sangat terbatas," ungkapnya.

Ia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada para pelaku kerajinan tradisional, baik melalui bantuan permodalan, pelatihan, maupun pendampingan usaha. Dengan dukungan tersebut, seni ukir khas Dayak diyakini mampu berkembang menjadi produk unggulan daerah sekaligus memperkuat posisi Kalimantan Tengah di pasar kerajinan dunia. (f1/sb)