Lewati ke konten utama
Provinsi

BRIN dan UPR Uji Formula Pemadam Karhutla dari Pati Singkong

Redaksi 07-11-2026, 12:39 WIB 3 menit baca
BRIN bersama UPR turun langsung memantau peninjauan lokasi uji coba formula pemadaman karhutla. (FOTO: ISTIMEWA)
BRIN bersama UPR turun langsung memantau peninjauan lokasi uji coba formula pemadaman karhutla. (FOTO: ISTIMEWA)

SB, PALANGKA RAYA – Upaya mencari solusi untuk menekan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan terus dikembangkan melalui inovasi berbasis riset. Kali ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Palangka Raya (UPR) menguji teknologi pemadam kebakaran dengan memanfaatkan campuran pati singkong dan bahan kimia Ammonium Polyphosphate (APP).

Inovasi tersebut menjadi salah satu terobosan yang tengah dikembangkan untuk mendukung penanganan karhutla, terutama di kawasan gambut yang selama ini dikenal memiliki tingkat kerawanan kebakaran cukup tinggi.

Pengujian teknologi tersebut berlangsung di Balai Pengendali Kebakaran Wilayah Kalimantan, Palangka Raya, Kamis (5/11/2026), dalam rangkaian kunjungan kerja Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., yang turut didampingi Rektor UPR, Prof. Bhayu Rhama, S.T., MBA., Ph.D.

Kunjungan ini sekaligus menjadi momentum memperkuat kerja sama antara lembaga riset nasional, perguruan tinggi, dan petugas teknis yang selama ini terlibat langsung dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Formula berbahan pati singkong dan APP menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Pengembangan bahan ini diharapkan dapat menghasilkan alternatif teknologi pemadaman yang lebih efektif untuk menghadapi karakteristik kebakaran di kawasan gambut maupun wilayah konservasi.

Tidak hanya menguji formula pemadam, BRIN dan UPR juga mendorong pemanfaatan teknologi pemetaan modern untuk memperkuat upaya pencegahan kebakaran.

Hal itu terlihat melalui agenda verifikasi dan validasi survei menggunakan drone thermal serta drone LiDAR. Kedua teknologi tersebut dimanfaatkan untuk mengumpulkan data lapangan, memetakan kondisi wilayah, hingga membantu mengidentifikasi kawasan yang berpotensi mengalami kebakaran.

Dengan dukungan teknologi tersebut, pemetaan wilayah rawan karhutla diharapkan semakin akurat sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan lebih terarah dan berdasarkan kondisi nyata di lapangan.

Rangkaian kunjungan kemudian dilanjutkan ke Pusat Pengembangan IPTEK dan Inovasi Gambut (PPIIG) UPR. Pusat pengembangan riset ini diharapkan menjadi salah satu motor penggerak kolaborasi penelitian antara BRIN dan kalangan akademisi dalam menghasilkan solusi konkret bagi persoalan kebakaran gambut.

Rektor UPR, Prof. Bhayu Rhama, menegaskan bahwa pihaknya siap mendukung pengembangan inovasi tersebut, termasuk dengan melibatkan tenaga ahli dan fasilitas penelitian yang dimiliki universitas.

“UPR siap menerjunkan tim ahli serta memfasilitasi pengembangan riset lanjutan melalui PPIIG. Kami berharap kolaborasi ini dapat menghasilkan inovasi yang benar-benar bermanfaat dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla,” ungkap Bhayu.

Menurutnya, kerja sama antara lembaga riset dan perguruan tinggi sangat penting agar hasil penelitian tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi juga dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan di lapangan.

“Kolaborasi antara lembaga riset dan perguruan tinggi diharapkan mampu menghasilkan inovasi serta peta mitigasi berbasis data yang lebih akurat,” tegasnya.

Ke depan, penanggulangan karhutla di Kalimantan diharapkan tidak lagi hanya berfokus pada pemadaman setelah api muncul. Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan pemetaan risiko perlu diperkuat agar potensi kebakaran dapat dideteksi dan dicegah sejak dini.

Sebagai tindak lanjut kunjungan tersebut, sejumlah pihak juga berkomitmen menyusun program kerja bersama yang melibatkan Manggala Agni, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta unsur pemerintah daerah.

Sinergi lintas lembaga ini dinilai penting untuk membangun sistem penanggulangan karhutla yang lebih terpadu, mulai dari pemantauan kondisi wilayah, deteksi dini, mitigasi, hingga penanganan ketika kebakaran terjadi.

Pengembangan formula pemadam berbasis pati singkong dan APP, penggunaan drone thermal dan LiDAR, serta dukungan teknologi modifikasi cuaca menjadi bagian dari strategi yang terus didorong.

Dengan berbagai inovasi tersebut, BRIN dan UPR berharap upaya menghadapi ancaman karhutla di Kalimantan semakin efektif. Lebih dari sekadar memadamkan api, penguatan riset ini diharapkan mampu melindungi kawasan gambut, menjaga kelestarian ekosistem, sekaligus mengurangi risiko bencana kabut asap yang kerap mengancam masyarakat. (sb/*)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard