Halikinnor Soroti Lahan Bekas Karhutla di Tengah Kota, Minta Ditanami dan Dibangun Sumur Bor
Sb, SAMPIT – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Bupati Kotim Halikinnor kini mendorong agar lahan-lahan bekas terbakar, terutama yang berada di kawasan perkotaan, ditata kembali dan dimanfaatkan untuk tanaman produktif. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah lahan kosong kembali menjadi titik rawan kebakaran saat musim kemarau.
Halikinnor menyampaikan hal itu saat memantau kondisi hotspot sekaligus penanganan karhutla di wilayah Kotim, Jumat (25/9/2026). Menurutnya, setelah api berhasil dipadamkan, petugas masih harus melakukan pendinginan secara menyeluruh. Sebab, bara api dapat tetap bertahan di dalam tanah dan kembali memicu kebakaran.
“Yang saat ini sudah dipadamkan itu masih perlu pendinginan. Mungkin kelihatannya tidak ada asap, padahal apinya masih di dalam dan nanti bisa keluar lagi,” ujar Halikinnor.
Ia menegaskan, proses pendinginan menjadi bagian penting agar titik kebakaran benar-benar aman dan tidak kembali menyala.
Setelah kondisi lahan dinyatakan aman, pemerintah daerah berencana mendorong pemanfaatan kembali lahan bekas terbakar dengan tanaman yang memiliki nilai produktif.
“Bekas-bekas kebakaran itu nanti rencananya kita programkan untuk ditanami tanaman yang produktif. Kita juga akan koordinasi siapa pemiliknya,” katanya.
Halikinnor menyoroti keberadaan sejumlah lahan kosong di kawasan perkotaan Sampit yang belum dimanfaatkan. Persoalannya, sebagian lahan tersebut diketahui dimiliki warga yang tinggal di luar daerah.
Kondisi itu membuat pemerintah daerah perlu melakukan pendataan agar keberadaan dan status kepemilikan lahan dapat diketahui dengan jelas.
Ia meminta pemerintah kecamatan dan kelurahan ikut mendata lahan-lahan kosong, khususnya yang berada di kawasan padat penduduk dan memiliki potensi menjadi lokasi kebakaran.
Selain penataan lahan, Pemkab Kotim juga berencana mendorong pemilik tanah kosong menyediakan sumur bor di lahannya.
Fasilitas tersebut dinilai dapat menjadi sumber air alternatif ketika terjadi kebakaran, terutama saat musim kemarau ketika sumber air permukaan semakin terbatas.
“Kita berharap pemilik tanah-tanah kosong yang berada di tengah kota dan belum dimanfaatkan itu diwajibkan membangun sumur bor ke depan. Jadi apabila terjadi musim kemarau seperti ini atau ada kebakaran, kita tidak sulit mencari air,” jelas Halikinnor.
Menurut Halikinnor, persoalan ketersediaan air menjadi salah satu tantangan yang dihadapi petugas ketika melakukan pemadaman karhutla.
Api dapat ditemukan dan dipadamkan, tetapi prosesnya menjadi lebih sulit ketika sumber air berada jauh dari lokasi kebakaran.
“Kendala air kita hadapi. Pemadaman itu kita punya api, tetapi sumber airnya tidak ada. Ini jadi pelajaran kita tahun ini karena memang panas sekali. Ke depan kita berharap lebih mudah dalam penanganan, khususnya kebakaran hutan dan lahan,” pungkasnya.
Karena itu, Pemkab Kotim ingin penanganan karhutla ke depan tidak hanya berorientasi pada pemadaman ketika api sudah muncul. Pencegahan, penataan lahan, pemanfaatan lahan kosong dan kesiapan sumber air juga akan menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman kebakaran pada musim kemarau.
Bagi pemerintah daerah, lahan kosong yang selama ini tidak termanfaatkan diharapkan tidak lagi menjadi titik rawan karhutla, tetapi justru dapat diubah menjadi lahan produktif sekaligus memiliki sumber air yang bisa digunakan untuk penanganan kebakaran. (f1/sb)